Why Heartbreak is Easier and Bearable Fifteen Years Ago

Pulang dari malam mingguan sama suami, kita mampir sebentar ke tempat sate padang terkenal untuk pesen dibawa pulang. Sambil nunggu suami pesen, gue di mobil liat-liat timeline Path dan Twitter. All i see was a swarming desperation on tweets/thoughts because apparently being single on a saturday night definitely not cool. Then i also realise that social media is 90% the cause of this dramatisation nation.
Lima belas tahun lalu gue berumur 13 tahun dan seinget gue sih baru mulai pacaran. Pacaran jaman SMP yang kalo kata orang masih cinta monyet ini dimulai dari kenalan malu-malu di lorong sekolah, dimintain nomor telepon, dan ditelepon hampir setiap hari. Boro-boro deh pegangan tangan, jalan berdua aja malu banget karena suka digodain temen-temen. Months later i decided that i didn’t like him that much, so i stopped answering his call and told him in a letter that we are breaking up. Yes, a letter, because back then i didn’t think that 160 characters could possibly express my feelings.
Anyway, ini dia yang mau gue bahas. Mantan gue pas abis putus sempet berusaha menelpon terus dan usaha untuk balikan. Kira-kira kalau sekarang ini bentuknya mungkin bbm/whatsapp/line setiap hari dalam modus balikan. Ketika gue gak mau menjawab telepon, nyuekin di sekolah, atau cerita ke temen kalo gue gak mau balikan maka apa yang gue sampaikan secara verbal dan non verbal bisa langsung diterima si mantan yang masih berharap. Tanpa ada embel-embel dramatisasi dia cuek aja move on. Kalau saat ini mungkin bentuknya si cewek/cowok tinggal nulis 160 karakter berisi curhat colongan dan menciptakan dramatisasi virtual yang malah makin menyulitkan dirinya/orang lain untuk move on.
Jaman dulu move on lebih mudah, karena gak ada dramatisasi virtual. Virtual itu apa bahkan mungkin belum ngerti. Gak ada kata galau pada 15 tahun yang lalu, gue juga kalaupun galau abis mutusin anak orang paling hanya ngayal di kamar sambil mikirin pacar khayalan gue saat itu si Nick Carter-nya Backstreet Boys (ya ampuunn…). Kalau dulu lagu-lagu patah hati dibuat sangat indah kayak Kasih Tak Sampai-nya Padi, sementara sekarang lagu-lagu patah hati dibuat justru sangat murahan dan menggelikan diulang-ulang sampe gila ribuan kali, bahkan gue yang gak patah hati-pun jadi ikutan mencelos kalau nelpon temen yang RBT-nya Someone Like You milik Adele. Ya kalo penyanyi Inggris bikin lagu patah hati mah tetep keren, coba kalo Wali atau Kangen Band, ngeliat personilnya aja udah patah hati duluan. Bayangin saat ini yang namanya galau kayak udah jadi trend, even a telecommunication company made a campaign out of the ‘Galau’ word, which i found very horrible. People expressed their galau feelings openly in social media, and also in the phone status updates.
Gue inget jaman dulu gue deket sama suami, ada periode dimana waktu kita belum pacaran gue sebel banget sama dia karena deket sama banyak cewek (ceritanya gak mau saingan bok…). Gue bilang langsung ke dia bahwa gue gak mau ngikutin dia di social media, because it’s bothering me a lot. In short i dumped him even before we were a couple (only to have him stubbornly pursued me many months later…). Ahh jadi curcol kan. Nah pada periode itu gue menyadari bahwa social media membuat gue jadi susah move on, your fingers itching to click that familiar name on your timeline dimana seringnya penasaran yang kayak gini yang bikin hati makin jeblos ke jurang.
Kemudahan mendapatkan informasi yang kita ingin tau dan tidak ingin tau (tapi penasaran…) inilah yang bikin susah move on, yang mengakibatkan banyak orang semakin galau. Jadi intinya kalau mau get over a heartbreak (di masa ini…) jangan sering-sering ngeliatin social media.
Gue rasa memang lebih mudah melupakan patah hati di masa lima belas tahun yang lalu.  Karena pertanyaan seperti ‘What are you thinking’ cuma kita dan Tuhan yang tau jawabannya, tanpa mengundang ke-kepoan ratusan followers lainnya.
Once a heartbreaker,
Kattleya A. Anandita
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s